VLOG

Alice Guy-Blache, Sutradara Perempuan Pertama

Alice memproduksi ribuan film sejak 1890-an.
Kamis, 22 Agustus 2013
Oleh : Rizky Sekar Afrisia
Alice Guy-Blache

VIVAlife - Nama Kathryn Bigelow dan Vicky Jenson sudah sangat akrab di telinga para pelaku industri perfilman. Kathryn menyutradarai film "The Hurt Locker" dan Vicky kondang karena kesuksesan "Shrek".

Di Indonesia, siapa tak kenal Mira Lesmana, Nia Dinata, dan Lola Amaria. Namun adakah yang mengingat nama Alice Guy-Blache?

Perempuan Perancis itu memang sudah meninggal 45 tahun lalu. Karyanya juga sudah dimuseumkan. Namun apa yang ia lakukan semasa hidup ternyata begitu penting untuk diingat.

Alice telah mendirikan tonggak sejarah di dunia perfilman. Ia lah sutradara perempuan pertama di dunia. Laman CNN menyebut ia sebagai inovator dalam mendongeng dan berbisnis.

Ketertarikannya dalam dunia film bermula dari terlibatnya Alice di sebuah perusahaan perfilman di Perancis, Gaumont Film Company tahun 1890-an.

Sebelumnya ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan fotografi. Tak lama, perusahaan itu bangkrut. Namun, sang bos Leon Gaumont memulai usaha baru di bidang film dan mengajak serta perempuan kelahiran 1 Juli 1873 itu.

Tak lama bergabung dengan Gaumont Film Company, Alice mulai menunjukkan kemampuannya. Di usia 23 tahun, ia sudah menyutradarai sebuah film pendek berjudul “La Fee aux Choux” (“The Cabbage Fairy”).

Alice makin serius menekuni dunia film saat mendirikan perusahaannya sendiri, Solax Film tahun 1910. Ia bahkan membangun studionya sendiri di New Jersey.

Tak ayal, Alice menjadi perempuan pertama yang memiliki studio film sendiri. Kiprahnya makin melanglang buana. Seumur hidupnya, ibu dua anak itu telah menyutradarai sekitar seribu judul film.

Alice bahkan tercatat sebagai pionir untuk penggunaan efek cahaya, suara, serta penerapan prinsip komposisi dalam membuat film.

Thomas J. Slater, sarjana film dari Indiana University of Pennsylvania berpendapat Alice lebih dari sekadar sutradara.

“Dia juga tahu bagaimana mengatur sebuah perusahaan dan pekerjaannya di luar sana,” ujarnya seperti dikutip dari CNN. Bisnis Alice sempat berpindah ke Hollywood, namun hanya sementara. Setelah beberapa tahun, ia akhirnya kembali ke Perancis.

Karya-karya Alice mungkin kini tak terendus, salah satunya "The Life of Christ" yang diproduksinya sekitar tahun 1906. Karya itu termasuk film berbiaya tinggi kala itu, karena melibatkan 300 pemain figuran.

Namun tingginya penghargaan yang ia peroleh mungkin dapat menggambarkan perannya menorehkan tinta emas di dunia perfilman.

Tahun 1953, ia dianugerahi Legio d'honneur, sebuah penghargaan non-militer tertinggi di Perancis. Empat tahun kemudian, ia juga dihormati dalam acara Cinematheque Française.

Nama Alice bahkan diabadikan dalam sebuah ajang penghargaan, Golden Door Film Festival, yakni Women in Film- Alice Guy Blache Award. Beberapa film dokumenter dibuat untuk mengenang peran pentingnya di dunia perfilman.

Belakangan, Green and Jarik van Sluijs dari sebuah perusahaan desain di Los Angeles berupaya menggalang dana untuk pembuatan film dokumenter terbaru soal Alice, “Be Natural”.

Meski film itu akan menampilkan Alice di masa lampau, namun Green dan Van Sluijs berencana menggunakan teknologi modern. “Alice adalah bagian dari sejarah, tetapi ceritanya bukan soal sejarah itu sendiri," kata Green.

"Film itu menceritakan seorang perempuan yang melihat sebuah kesempatan saat ia tak memiliki apapun selain hambatan, namun dia tetap optimis. Pesannya adalah, jika Anda memiliki mimpi dan bisa membayangkannya, Anda pasti bisa melakukannya,” ia melanjutkan.

File Not Found
TERKAIT