VLOG

Tradisi Tadarus Juru Kunci Makam Raja Mataram

Tadarus dilakukan para abdi dalem hingga malam ke-21 Ramadan atau selikuran.
Kamis, 4 Agustus 2011
Oleh : Elin Yunita Kristanti
Kompleks makam raja-raja Mataram

VIVAnews - Hanya beberapa ratus meter di selatan Pasar Kotagede yang ramai, sebuah kompleks makam tradisional tak takluk oleh modernisasi Kota Yogyakarta. Gerbang kuno dari batu, Gapura Padureksa, menjadi pintu masuk makam--di mana anggota Dinasti Mataram dimakamkan. Di kiri jalan menuju gapura terdapat dondhongan--rumah tradisional tempat tinggal para abdi dalem.

Kompleks itu adalah kompleks makam raja Mataram pertama sebelum akhirnya dipindahkan ke Imogiri oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang masyhur karena menyerang Belanda di Batavia.

Raja-raja dan pembesar Jawa dikebumikan di tempat itu, sebut saja Panembahan Senopati--pendiri Dinasti Mataram, Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Sedo ing Krapak, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Nyai Ageng Nis, Nyai Ageng Mataram, Nyai Ageng Juru Mertani. Juga Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Setiap Ramadan, berlangsung tradisi tadarus di lokasi itu. Selesai tarawih, para abdi dalem Kraton Yogyakarta yang bertugas sebagai juru kunci makam, membaca kitab suci Al Quran di pelataran makam raja-raja Mataram tersebut.

"Abdi dalem tadarus setiap malam di pelataran makam (di depan makam Raja-raja Mataram)," kata Tauzan Supriyatno, Juru Kunci Makam Raja Mataram dalam perbincangan dengan VIVAanews.com, 4 Agustus 2011, di Yogyakarta.

Menurut dia, setiap malam abdi dalem bergantian tadarusan, sesekali diikuti oleh warga setempat."Ada empat sampai lima orang abdi dalem yang tadarus setiap malam dan bergilir setiap harinya," kata Tauzan.

Tadarusan dilakukan hingga selikuran atau malam ke-21 Ramadan.  "Kalau dulu abdi dalemnya banyak, kami bisa khatam (tamat baca Alqur'an) dua kali, karena yang tadarusan banyak. Namun, sekarang hanya satu kali," ungkapnya. "Kalau pas malam selikuran nanti datang semua abdi dalem".

Tiap selikuran, ada syukuran oleh abdi dalem dan warga. "Syukuran dengan makan bersama, nasi gurih  pake ingkung (ayam Jawa), selesai acara selikuran nasi itu dibagi-bagikan pakai daun pisang untuk makan bersama," tuturnya. (Laporan: Erick Tanjung, Yogyakarta | kd)

File Not Found
TERKAIT